Dipaksa belajar pemetaan dengan ArcView

Bang blank bang! Kata ini mungkin yang menggambarkan kondisiku saat ini. Yakin haqul yakin, emang bener-bener blank aku soal topik yang satu ini. Emang sih sempat tahu nama software ArcView pas masih di Lab MIPA dulu, hanya saja masih sebatas tahu nama softwarenya. Tidak lebih. Kalo tak salah Pak Didiek yang kala itu membawa software tsb dari Bandung. Selebihnya aku tidak tertarik. Baru waktu-waktu ini akhirnya datang juga waktuku untuk “harus tahu”.

Buntut dari projek VPDP2009.
Semua ini bermula dari sebuah projek yang sedang dikerjakan bagianku di kantor, Subdit Perdagangan Dalam Negeri (BPS). Tahun 2009 menjadi tahun pengerjakan projek Survey Pola Distribusi Perdagangan. Dalam survey ini, dicoba untuk melihat fakta di lapangan terkait masalah pola distribusi perdagangan. Survey ini dibatasi pada 16 Komoditi yang sudah ditentukan, seperti minyak goreng, terigu, ikan segar, ban luar mobil/motor dan lain sebagainya. Sampai saat ini sudah pada tahap inputing data. Yagh tinggal beberapa kuesioner dari beberapa daerah yang memang datang paling akhir dan beberapa kuesioner yang memang bermasalah sejak awal. Proses evaluasi pun juga sudah mulai dilakukan. Sebagai bentuk visualisasi hasil, nantinya pengen diadakan peta distribusinya. Ini dia yang kemudian jadi awal mula petualanganku dengan ArcView.

Bagian pemetaan sedang sibuk.
Harusnya hal seperti ini, bisa saja dilemparkan ke Subdit pemetaan. Secara bagian mereka memang fokus pada pembuatan Peta. Sayang, waktu-waktu ini mereka juga sedang full job, sibuk dengan beberapa pekerjaan yang sudah nongol duluan. Ya wes terpaksa. Sempet sih, tanya bisa ndak aku minta diajarin. Tapi sepertinya lebih cepetan mereka yang ngerjain petanya daripada harus ngajarin aku untuk buat petanya (doh). Ya sudah, akhirnya solusi yang paling mungkin adalah ambil kejar paket C, alias otodidak :D

Sejauh yang aku tahu
Alhamdulillah, so far aku sudah mulai dapat beberapa gambaran soal pemetaan. Topik ini masuk dalam kategori GIS, atau dalam bahasa kita biasa disebuat dengan SIG (Sistem Informasi Geografi). Fokus pembicaraannya memang soal informasi geograsi, terutama soal peta mengenai berbagai aspek dari sebuah lokasi geograpik (daerah). Alhamdulillah lagi, topik ini bukanlah hal yang asing di dunia internet. I mean… bukan hal yang rare (langka). Mudah untuk menemukan bahasan soal bab ini di internet. Aku sudah download beberapa artikel dan membacanya sebagai gambaran awal. Gambaran mengenai GIS sedikit demi sedikit aku tahu.

Beberapa teori soal GIS pun akhirnya harus aku lahab. Tentu ini agar berbagai istilah di dalamnya aku tahu. Karena memang benar, beberapa istilah yang sebenarnya ada dalam disiplin ilmu komputer ternyata memiliki makna yang berbeda dalam disiplin ilmu pemetaan (hayah, po mudeng to kur.. kur). He he…. tapi emang bener kok.

Thx to webgis KPU, karena dari sana aku juga dapat gambaran soal studi kasus pembuatan GIS. Darisana aku mulai paham beberapa proses yang nantinya harus aku lalui. Masalah petanya, datanya dan bagaimana nanti data sebaiknya disampaikan.

Softwarenya sendiri sudah aku dapatkan dari internet (versi portable), sedang versi instalernya aku dapat dari anak komputasi STIS yang kebetulan sedang magang di bagianku. Cocoba sudah dilakukan, dan so far masih bingung nanti gmn menghubungkan data yang ada ke dalam bentuk persebaran di peta. :D

Ho ho, bulan ini harus bisa. Let’s see…

Can’t edit the calendar in the offline mode

Satu hal yang aku perlukan untuk melakukan manajemen jadwal kajian adalah quick add event, even on offline mode. Ya, pikirku alangkah lebih cepat jika aku bisa melakukan listing, baik input, edit maupun update jadwal secara offline. Baru kemudian aku lakukan sync secara online ke Google Calender. Sayangnya, fitur yang aku maksud belum aku temukan.

Dalam sebuah tulisan sebenarnya disebuatkan kalau kita bisa mengakses Google Apps, like Gmail, Google Docs, dan juga Google Calender. Jika kita amati ketika login di Gmail atau fitur Google yang lain, di kanan atas memang sudah nampak ada link untuk offline. Hal ini menjadikan kita bisa mengakses data-data kita di Google secara offline. Aku dah pernah coba untuk Gmail. Ya, so far… ok lah buat yang punya low connection.

Dalam modus offline Google Calender hanya bisa dibrowse alias hanya bisa dilihat. Tidak bisa ditambah maupun diedit. Jadi percuma juga! Mungkin harusnya aku menggunakan jasa pihak ketika (pakai aplikasi maksudnya) untuk mengakomodir maksudku ini. Hmmm, any suggest???

update!
Nemu artikel komplit soal Google Calender Offline di Google Help Center

Ngeblog dimari aja dah

Rada frustasi juga dengan dualisme domain camagenta.web.id yang sampai saat ini belum nemu solusinya. Kadang bisa bener konek ke hosting baru, tapi kadang… balik lagi nyangkut ke 000webhost. Jadilah, kalau udah nyangkut ke 000webhost lagi.. rasa malas melanda. “Jagh, balik maning (doh)”, gerutuku setiap kali aku akses domainku itu dan yang keluar adalah halaman kosong berwarna putih. That’s my 000webhost index page for this domain.

Ya wes lah, daripada gak ada log. Sementara balik ke rumah lama saja. Ada beberapa hal yang sepertinya perlu aku logging biar lebih mudah manajemene ke depan.

Saat ini interestku lagi berada ke Google Calender. Fitur Google yang satu ini akan aku gunakan untuk integrasi all event biar memudahkan dalam rekap. Hmmm, for instance. I’ll use it to list all kajian event on Indonesia. Langkah ini sebelumnya sudah pernah dibuat oleh team kajian.org. Tapi entah sampai sekarang site tsb masih maintance sampe sekarang. Yosh! Let’s see what can I do for this case. Ganbatte kuro!

Best Web Hosts (2009) by Webhosting Geeks

A web hosting service is a type of Internet hosting service that allows individuals and organizations to provide their own website accessible via the World Wide Web. Web hosts are companies that provide space on a server they own or lease for use by their clients as well as providing Internet connectivity, typically in a data center. Web hosts can also provide data center space and connectivity to the Internet for servers they do not own to be located in their data center, called colocation.

Nowdays, many webhosting service available on the internet. We can choose whether one provider or another one. Even, we can choose the paid hosting or free hosting :D

If you just wanna learn how to develop a website, I suggest you to take the free webhosting. But, if you manage a profesional website, like online protofolia, a company profile, online store. Better you take a paid hosting.

Good news for you, webhostinggeeks provide some review about best hosting service. These 10 best webhosting 2009, reviewed by webhostinggeeks

1 Inmotion   
2 JustHost   
3 WebHostingPad  
4 FatCow  
5 Bluehost  
6 Hostmonster  
7 Globat  
8 Lunarpages  
9 GoDaddy  
10 Yahoo  

Choose one you prefer :p
See this page if you one to know another customer review : webhosting review.

Shopwiki vs Amazon

Hari ini, ada berita mengagetkan dari “salah satu temen”. Ternyata nulis jaman sekarang boleh menggunakan bahasa indonesia. He he he, dadi rasah kangelan merangkai kata dengan kosa kata pas-pasan yang kadang hasilnya cenderung dipaksakan.

Ehmm.. ada sedikit PR dari kampung sebelah untuk menulis mengenai sebuah toko online. Toko ini sebenarnya sudah banyak numpang nampang di banyak situs di dunia maya. Gak tahu juga kenapa kok masih terus mengharap *halah* ada orang yang rela-relaan memberikan buah bibir, agar web mereka makin sering dikunjungi.

Memang kalo dibandingkan dengan amazon, site ini ketinggal jauuuuuuuuuuuuuh banget. Ya gmn tidak, wong rangking amazon 31 sedang toko yang satu ini masih di rangking 3.666. Sebuah PR besar buat om James Keating selaku marketingnya.

Lanjutkan membaca ‘Shopwiki vs Amazon’

Halaman Berikutnya »


Celoteh Kurnia
Sekedar gumaman seorang kurnia tentang hidup. So simple, just a word :). Refleksi diri seorang kurnia. Apa saja yang ada dibenakku. Mohon koreksi jika ada yang salah. Ceoloteh yang lain ada di sini.

Visitor Management

  • 52,832 sahabat