Dalam bekomunikasi, banyak bahasa yang bisa kita gunakan. Bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Inggris, atau yang cuman keminggris
. Is okay, sah-sah saja kita mau memakai bahasa apa dalam bergaul. Asalkan antara penyampai informasi dan penerima informasi mudeng, paham, informasi apa yang disampaikan. Buat orang-orang gaul pun, sah-sah saja mereka memakai berbakai kiasan dalam bercakap. Terkadang kelompok orang-orang ini, menggunakan istilah-istilah yang tidak umum dipakai oleh orang pada umumnya. Contoh saja penggunaan kata “sutra” untuk mengatakan “terserah”, “lelet” untuk mengatakan “lambat” dan sebagainya.
Ada juga model-model penyampaian informasi yang menggunakan kiasan. Mungkin maksudnya biar makin keren, atau bisa jadi juga biar puitis (lmao). Tapi terkadang model-model ini juga susah dipahami. Karena terkadang penafsiran masing-masing orang bisa jadi berbeda. Masalah penafsiran inilah yang kadang unix. Suer, kadang kita ngomong X ke si A, tp ternyata pesan yang diterima si A tidak soal X. Pesan yang diterima si A malah Z. (dubrak). Distorsi-distorsi *halah, boso po meneh iki* inilah yang membuat kesalahpahaman dalam penyampaian informasi. Istilah gaulnya Jaka sembung, alias gak nyambung jrek
nb : lagi merasa, bahwa selama ini bukan tipe penafsir yang bagus. sering salah tafsir. makane kadang jadi jaka sembung. situ maunya gini, eh… tak tafsirin gtu (rofl). Situ maunya gtu, eh… tak tafsirin gini. Hi3x
Audit Management